Cita-Cita

“Dilarang putus asa” adalah sebuah kata yang sekilas nampak sudah basi. Mengapa nampak basi karena selain sudah terlalu sering kita dengar sejak kita masih kecil sampai sekarang tumbuh dewasa, juga sering diucapkan oleh orang-orang terdekat kita, antara lain ayah-bunda kita, bapak-ibu guru di sekolah, dan bapak-ibu dosen di kampus tempat kita kuliah.
.
Namun perlu diingat bahwa putus asa itu juga bagian dari perintah agama. Bayangkan jika kita sudah berani melawan perintah agama berarti kita sudah berani dengan Tuhan kita. Dengan Tuhan saja kita berani apalagi dengan yang lain-lainnya, sungguh luar biasa.
.
Secara psikologis, seseorang itu bisa menjadi bahagia apabila : 1) Ada yang diharapkan / mati satu tumbuh seribu. 2) Ada yang dicintai  / termasuk mencintai aktifitas hidup seperti gemar belajar atau giat bekerja. 3) Ada yang dikerjakan / mencari kesibukan baru atau meningkatkan volume aktifitas yang sudah ada. 4) Punya jiwa yang tulus / termasuk tulus menerima kenyataan dan keadaan.
.
Orang yang masih punya cita-cita, maka ia masih ada harapan untuk mempertahankan hidupnya, terlebih jika cita-citanya tinggi maka ia punya harapan terhadap masa depan yang lebih baik dari yang sekarang. Berikut ini ada tips dalam menetapkan cita-cita :

  1. Kenali potensi anda, bisa potensi diri sendiri atau potensi dari lingkungan terdekat anda. Potensi diri meliputi bakat anda dan minat anda. Sedangkan potensi lingkungan terdekat anda adalah melingkupi daya dukung orangtua, kakak dan adik kita, kakek nenek kita, dan teman karib kita.
  2. Kenali jenis pekerjaan atau profesi apa yang kelak sangat berharga dalam dunia industri masa depan, jangan sampai memiliki cita-cita yang pada akhirnya tidak begitu dibutuhkan oleh dunia lapangan pekerjaan pada masanya (masa depan zaman dimana kelak kita sudah lulus kuliah dan harus berkarya)
  3. Cari tahu bakat anda sejak sekarang atau cari tahu interelasi atau relevansi antara ilmu yang anda tekuni sekarang dengan kebutuhan hidup masyarakat masa depan, jika tidak ada daya jualnya maka kita harus bisa berpikir ulang atau re-evaluasi.
Supported by : Lembaga Tes Bakat Sidikjari DMI
.
.

——————————————————————————–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s